E.KONSEP DASAR PROSES MORFOLOGIS



Nama               : Muhammad Zukhruf Fikri Al ayubi
NIM                 : 166106
Kelas                : PBSI 2016 B

KONSEP DASAR PROSES MORFOLOGIS
A.Pengertian Proses Morfologis
            Berdasarkan strukturnya, suatu kata dapat digolongkan atas dua macam, yaitu kata yang bermorfem tunggal atau monoforfemis dan kata yang bernorfem lebih dari satu atau poliformis.Peristiwa penggabungan morfem satu dengan morfem yang lain menjadi kata itulah yang disebut dengan proses morfologis.

Pengenalan Morfem (kata monomorfemis dan kata polimorfemis)

Kata Monomorfemis adalah kata-kata yang hanya terdiri dari satu morfem. Contoh bentuk rumah, batu, satu, dua, di, ke, dari, pada, yang, karena , maka. Bentuk-bentuk tersebut adalah satuan gramatik terkcil yang tidak dapat dibagi lagi atas satuan lingual bermakna yang lebih kecil.

Kata Polimorfemis adalah kata-kata yang terdiri dari dua morfem atau lebih. Contoh berumah, membaty, menyatu, dan mendua. Kata-kata tersebut terdiri dari morfem prefiks dan morfem dasar.

Untuk menentukan status monomorfemis atau polimorfemis suatu kata diperlukan beberapa persyaratan dasar yang bersifat teoritis, diantaranya:
1.                  pengertian kata
2.                  pengertian morfem
3.                  prinsip-prinsip penentuan morfem
4.                  pengertian dan penertapan deretan morfologis 
5.                  analisis unsur dan unsur langsung
Yang dimaksud dengan morfem terbelah dalam bahasa Indonesia adalah morfem yang wujud fonemisnya tidak merupakan satu-kesatuan, melainkan sebagian berada pada posisi awal dan sebagian lagi berada di posisi akhir.
Contoh:
·                     keadilan
·                     kemauan
·                     perburuhan
·                     perbaikan
Jenis kata polimorfemis dalam bahasa Indonesia ialah:
1.                  kata polimorfemis yang berupa kata berafiks. Prefiks: be(r)-rumah, me(m)-batu, me(n)-dua ; Infiks; g-er-igi, s-in-ambung ; Sufiks: baca-an, ilmu-wan ; Konfiks: ke-adil-an, ke-mau-an; Berkombinasi afiks : me(m)-besar-kan
2.                  kata polimorfemis yang berupa kata ulang. Contoh: rumah-rumah, batu-batu, kambing-kambing
3.                  kata polimorfemis yang berupa kata majemuk. Contoh: Kamar mandi, mata kaki, rumah makan.
4.                  kata polimorfemis yang berupa kata bermorfem zero. Contoh : makan, minum
5.      B. Ciri Suatu Kata Yang Mengalami Proses Morfologis
6.                  Morfem-morfem yang membentuk atau menjadi unsur  kata berbeda-beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai tempat penggabungan dan ada yang berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.

B. Ciri Suatu Kata Yang Mengalami Proses Morfologis
            Morfem-morfem yang membentuk atau menjadi unsur  kata berbeda-beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai tempat penggabungan dan ada yang berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.
·        Dilihat dari wujudnya, bentuk dasar dapat berupa pokok kata, bahkan berupa kelompok kata. misalnya, bentuk dasar kata menemukanberjuang, dan perhubungan adalah pokok kata temu, juang, dan hubung.
·        Ciri lain bahwa suatu kata dikatakan mengalami proses morfologis ialah penggabungan atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti.
·        Contoh kata membantu. Kata itu hasil perpaduan bentuk dasar bantu dan afiks   {meN-}. Bentuk dasar bantu diikuti dengan penyesuaian bunyi, yaitu dari {meN-} menjadi {mem-}. Penyesuaian ini didasarkan atas sifat bunyi awal bentuk dasarnya. Karena bunyi awal bentuk dasar bantu adalah bilabial(bunyi bibir), bunyi akhir afiks {meN-} juga menyesuaikan diri menjadi bunyi nasal bilabial sehingga menjadi mem-. Penggabungan morfem lainnya yang mempunyai ciri sama misalnya {meN-}dengan buat,,bidik, bujuk,basmi, dll.
C. Macam Proses Morfologis
            Dalam bahasa indonesia, peristiwa pembentukkan kata ada tiga macam yaitu :
Ø  Pembentukkan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar. Misalnya kata menulisterbentuk dari bentuk dasar tulis dan morfem imbuhan {meN-}.
Ø  Pembentukkan kata dengan mengulang bentuk dasar. Misalnya kata murid-murid terbentuk dari bentuk dasar murid, dengan morfem {ulang}
Ø  Pembentukkan kata dengan menggabungkan dua atau lebih bentuk dasar. Misalnya kata meja hijauyang terbentuk dari bentuk dasar meja dan hijau.

 

D.Makna Gramatikal

Makna gramatikal adalah suatu makna yang sifatnya berubah-ubah yang menyesuaikan dengan konteks penggunanya, yang dikarenakan akibat terjadinya proses gramatikal terhadap kata-kata tersebut misalnya seperti peng-imbuhan, pe-majemukan dan pengulangan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti/makna gramatikal adalah makna yang sifatnya berubah-ubah berdasarkan proses gramatikal, sesuai dengan konteks dan terikat dengan kata-kata lain yang mengikuti kata gramatikal.

Contoh makna gramatikal

1. Rumah makan (adalah rumah yang menyediakan dan menjual makanan berat, contoh nasi, soto dan lain-lain).
2. Rumah bersalin (adalah suatu tempat merawat dan membantu proses persalinan pada ibu hamil).
3. Berumah (adalah berarti memiliki rumah/ bertempat tinggal).
4. Berumah-rumah (adalah berarti suatu tempat yang terdiri dari banyak rumah (rumah yang lebih dari satu).
E. Pembentukan Kata di luar Proses Morfologi
          Ada enam proses pembentukan kata-kata baru yaitu :
1.        Studi terhadap akronim sudah banyak dan sudah lama pula, apalagi akronimisasi merupakan gejala yang semakin frekuentif saja, proses akronimisasi dalam bahasa-bahasa nusantara pernah diteliti oleh Renward Bransetter dalam Hal Bunyi Bahasa 2 Indonesia ( 1957 ). Dicontohkan akronim bahasa jawa misalnya “paklik”(bapak cilik), “bangjo” (abang ijo) dalam bahasa sawu, ora enen “barang sesuatu” diakronimkan menjadi ranen , dalam bahasa bugis, ponglila ‘lidah belakang’ menjadi polila (Brandseter, 1957:95-96). Contoh : Pusdiklat ( Pusat Pendidikan dan Pelatihan ), tongpes (kantong kempes).Pembentukan akronim tidak mempunyai sistem yang jelas.Apakah yang diambil suku awal,tengah atau akhir kata tidak bisa dipastikan.Pembentukannya lebih bersifat suka-suka.Dalam pusdiklat misalnya,suku awal sebenarnya bukan pus,tetapi pu , demikian juga tidak ada suku lat,tetapi la.Dari segi posisi sukunya,ini tidak beraturan ; pus ada diawal tetapi dik dan lat ada ditengah.Remaja adalah biang lahirnya akronim,misal : macan (manis dan cantik), lapendos (laki-laki penuh dosa),sendu(senang duit),coper (cowok perhatian),dan lain-lain.
2.        Abreviasi adalah apa yang sehari-hari disebut ‘singkatan’ ( sudaryantu 1983 : 230 ) ,yang diambil biasanya huruf depannya misal : ABC ( Anggota Bromo Corah), EGP(Emang Gue Pikirin) pengucapannya ada yang dibaca sebagai huruf abjad misalnya FKIP(ef-ka-i-pe) , ada yang tidak misalnya PPP (pe-tiga).
3.        Abreviakronim adalah gabungan antara akronim dengan abreviasi. Misal Polri ( Polisi Republik Indonesia ), Pemilu ( Pemilihan Umum),dan lain-lain.
4.        Kontraksi atau pengerutan , misalnya begitu ( bagai itu ) , begini ( bagai ini ) (Sudaryanto 1983 : 232).Dalam bahasa jawa kita temukan ning (nanging) ;  kawit di abreviakronimkan menjadi kit ; mau kae menjadi mangke (Brandsetter 1957 : 96).
5.        Kliping adalah pengambilan suku khusus dalam kata yang selanjutnya dianggap sebagai kata baru (Samsuri 1988 : 130). Misalnya influensa menjadi flu ; purnawirawan menjadi pur saja ;  profesional menjadi prof.
6.     Afiksasi pungutan tidak asing lagi,misal {anti-} (antikomunis,anti-kekerasan), {non-} (nonformal,non-Amerika,non-pemerintah),{antar}(antar daerah, antarsiswa), {swa} (swasembada, swadaya, swalayan). Dalam proses lebih lanjut jika sudah tidak terasa keasingan, ia masuk sebagai keluarga afiks bahasa Indonesia misalnya : -wan,-wati,-isme,-isasi yang sangat produktif,tidak terasa lagi bagi afiks.Afiks tersebut sebenarnya hasil pungutan dari bahasa asing.


Daftar pustaka  :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT BumiAksara

Komentar

Postingan Populer