F. KLASIFIKASI KATA
Nama : Muhammad
Zukhruf Fikri Al Ayubi
NIM : 166106
Kelas : PBSI
2016 B
KLASIFIKASI
KATA
A.
Hakikat kata
Menurut Chaer, 2008: 63 kata merupakan bentuk
yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan
keluar mempunyai kemungkinan mobilitas dalam kalimat. Sedangkan Menurut Crystal (1980:383-385), kata adalah satuan ujaran yang mempunyai
pengenalan intuitif universal oleh
penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Definisi kata yang umum
sebagai satuan makna atau gagasan tidak membantu karena kesamaran konsep. (Muib
Ba’dulu dan Herman, 2010:4).
B.
Klasifikasi Kata
a. Kelas tertutup
1. Nomina yaitu kata benda, ciri utama dilihat dari adverbia
pendampingnya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas kata nomina
a. tidak dapat didahului
oleh adverbia negasi tidak
b. tidak dapat didahului oleh adverbia derajat
(agak, lebih, sangat, dan paling).
c. tidak dapat didahului oleh adverbial keharusan
wajib
d.
dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah, satu, sebuah, sebatang.
2. Verba kata kerja
Cirri utamanya dilihat dari adverbial yang
mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
2. Verba kata kerja
Cirri utamanya dilihat dari adverbial yang
mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
a. dapat didampingi oleh
adverbia negasi tidak dan tanpa.
Contoh: tidak datang, tanpa makan
Contoh: tidak datang, tanpa makan
b. dapat didampingi oleh
semua adverbia frekuensi, seperti: sering
datang, jarang makan, dan kadang-kadang pulang
c. tidak dapat didampingi
oleh kata bilangan dengan pengolongannya, contoh: sebuah *membaca, dua butir *menulis,
dan tiga butir *pulang.
d. tidak dapat didampingi
oleh semua adverbia derajat. Contoh: agak *pulang, cukup *datang, lebih *pergi.
e. dapat didampingi oleh
semua adverbia kala (tenses). Contoh: sudah makan, sedang mandi, tengah
membaca, lagi tidur.
b. Kelas
tertutup
Yaitu kelas kata yang jumlah keanggotanya terbatas dan
tidak tampak kemungkinan untuk bertambah dan berkurang.
1. Adverbia
Kata keterangan atau kata keterangan tambahan,
fungsinya adalah menerangkan kata kerja, kata sifat, kata benda dan lainya.
2. Pronomina
Kata ganti karena tugasnya karena tugasnya memang
menggantikan nomina yang ada.
Contoh:
·
kata ganti diri: saya
dan aku (orang pertama tunggal), kami dan kita (orang pertama jamak)
·
kata ganti penunjuk: kata ini dan itu untuk
menggantikan nomina sekaligus penunjuk.
·
Kata ganti Tanya: kata yang digunakan untuk bertanya,
seperti: apa, siapa, kenapa, mengapa,
berapa, bagaimana, dan mana.
3.
Numeralia (Kata bilangan)
Kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urut, dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsi ada bilangan genap, ganjil,
bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
Ø Kata bantu bilangan:
kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan
di antara kata bilangan dengan nominana. Contoh: dua orang Korea, seorang lurah,
dua buah rumah.
4. Preposisi (kata depan)
Kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina
dengan verba didalam suatu klausa. Misalnya kata di dan dengan dalam
kalimat: nenek duduk di kursi, kakek
menulis surat dengan pensil.
5. Konjungsi (kata penghubung)
kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis,
baik antara kata dengan kata, antara frasa dengan fasa, antara klausa denan klausa
atau kalimat dengan kalimat. Contoh: ibu dan
ayah pergi ke Bogor, Dia tidak
datang karena hujan lebat sekali.
6. Artikulus (kata sandang)
kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau
mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa
Indonesia adalah si dan sang. Contoh: Mana si gendut, sejak tadi belum muncul, dan sang kancil adalah tokoh cerita binatang.
7. Interjeksi
kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin, misalnya karena kaget, marah,
terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Interjeksi dibagi menjadi dua,
yang pertama kata-kata singkat seperti wah,
cih, hai, oi, oh, nah, dan hah.
Kedua berupa kata biasa, seperti, aduh,celaka,
gila, bangsat, astaga, astaghfirulah,dan allah.
Contoh: “Wah, mahal sekali!” kata ibu-bu
“Hai,
siapa namamu?” Tanya kakak kepada adik itu.
“Alhamdulillah,
akhirna kita berhasil!
8. PartikeL
kah, lah, pun, dan per.
Partikel ini ada yang sebagai penegas, tetapi ada pula yang bukan.
Contoh: Apakah
isi lemari itu?
Ambillah mana yang kamu suka!
Saya
tidak tahu, dia pun tidak tahu
C. Pembentukan kata secara inflektif dan
derivatif serta paradigmanya
Dalam pembentukan kata
inflektif identitas leksikal kata yang dihasilkan sama dengan identitas
leksikal bentuk dasarnya, contoh membeli→ beli yang termasuk verba. Sedangkan
dalam pembentukan kata derivatif identitas bentuk yang dihasilkan tidak sama
dengan identitas leksikal bentuk dasarnya, contoh pembeli→ beli yang termasuk
nomina.
Kasus inflektif dalam
bahasa Indonesia hanya terdapat dalam verba transitif, yaitu:
|
Prefiks
|
Verba
|
Contoh
|
|
me-
|
Transitif Aktif
|
me-baca→ membaca
|
|
di-
|
Transitif Pasif
tindakan
|
di-baca→ dibaca
|
|
ter-
|
Transitif Pasif
keadaan
|
ter-baca→ terbaca
|
|
Zero
|
Imperatif
|
Ø-baca→ baca
|
(Chaer,
2008:37-39)
Klitika
Klitika berasal dari
bahasa Yunani yaitu Klinein yang artinya bersardar dapat ditafsirkan sebagai
jamak. Istilah ”klitika” (pro- dan en-) sering di pakai untuk menyebutkan
kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu harus ‘bersandar’
pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya. Menurut pengertian ini
suatu klitika paling sedikit berupa kata, jadi morfem bebas. Dalam pengertian
kita disini klitika adalah selalu morfem terikat. Akhiran –lah, -kah, dan –pun,
contoh walaupun, meskipun, dan maupun. (Verhaar, 1977:61-62)
Daftar pustaka :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT BumiAksara
Komentar
Posting Komentar