G.PROSES AFIKSASI
Nama : Muhammad Zukhruf Fikri Al Ayubi
NIM : 166106
Kelas : PBSI 2016 B
PROSES
AFIKSASI
A. AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA
Verba Berprefiks ber-
Bentuk dasar pembentukan verba prefiks ber- dapat berupa:
|
NO
|
Bentuk
dasar pembentukan verba prefiks ber-
|
Contoh
|
|
1.
|
Morfem
dasar terikat
|
Bertempur,
berkelahi, berjuang.
|
|
2.
|
Morfem
dasar bebas
|
Berladang,
bertenak, bergaya.
|
|
3.
|
Bentuk
turunan berafiks
|
Berpakaian,
beraturan, berpendapatan.
|
|
4.
|
Bentuk
turunan reduplikasi
|
Berlari-lari,
berkeluh-kesah.
|
|
5.
|
Bentuk
turunan hasil komposisi
|
Berjual-beli,
bertemu-muka.
|
Verba berprefiks ber- memiliki
makna gramatikal, yaitu :
|
NO
|
Makna
Gramatikal
|
Contoh
|
|
1.
|
‘mempunyai
(dasar)’
|
- Berayah
‘mempunyai ayah’.
|
|
2.
|
‘memakai’
atau ‘mengenakan’
|
-
Berjilbab ‘memakai jilbab’.
|
|
3.
|
‘mengendarai’
atau ‘naik’
|
-
Bersepeda ‘mengendarai
sepeda’
|
|
4.
|
‘berisi’
atau ‘mengandung’
|
-
Beracun ‘mengandung racun’
|
|
5.
|
‘mengeluarkan’
/ ‘menghasilkan’
|
-
Bertelur ‘mengeluarkan
telur’
|
|
6.
|
‘mengusahakan’/’mengupayakan’
|
-
Berladang ‘mengusahakan
ladang’
|
|
7.
|
‘melakukan
kegiatan’
|
-
Berdiskusi ‘melakukan
diskusi’
|
|
8.
|
’berada
dalam keadaan’
|
- Bersedih ‘dalam
keadaan sedih’
|
|
9.
|
‘menyebut’
atau ‘menyapa’
|
- Berkakak
‘menyebut kakak’
|
|
10.
|
‘kumpulan’
atau ‘kelompok’
|
- Berdua ‘kumpulan
dari dua (orang)’
|
|
11.
|
‘memberi’
|
- Berceramah
‘memberi ceramah’
|
Catatan: Ada sejumlah kata
berprefiks ber- yang tidak bermakna gramatikal, melainkan bermakna indiomatikal.
Misalnya:
- Berpulang dengan
makna ‘meninggal’.
Verba
Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
Verba berbentuk ber-an seperti pada kata bermunculan dan
berpakaian memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, berupa konfiks,
artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu diimbuhkan secara bersamaan sekaligus
pada sebuah bentuk dasar. Kedua, berupa klofiks artinya prefiks ber- dan
sufiks–an itu tidak diimbuhkan secara bersamaan pada sebuah dasar. Kalau bentuk
bermunculan di atas kita ambil sebagai contoh verba berkonfiks dan
bentuk berpakaian sebagai contoh berklofiks, maka proses pembentukannya
seperti ini: Muncul – ber - an
Makan gramatikal verba berkonfiks ber-an adalah:
1.
Banyak serta tidak teratur
2.
Saling atau berbalasan
3.
Saling berada di
Verba berkonfiks ber-an
memiliki makna gramatikal, yaitu:
|
NO
|
Makna Gramatikal
|
Contoh
|
|
1.
|
‘Banyak serta tidak teratur’
|
Berlarian ‘banyak yang
berlari dan tidak teratur’.
|
|
2.
|
‘saling’ atau ‘berbalasan’
|
Bermusuhan ‘saling memusuhi’
|
|
3.
|
‘saling berada di’
|
Bersebelahan ‘saling berada
di sebelah’
|
Verba
Berklofiks Ber-kan
Prefiks ber- dan sufiks –kan pada verba ber-kan memiliki
maknanya masing-masing, di mana prefiks ber- memiliki makna gramatikal
seperti yang di atas, sedangkan sufiks –kan memiliki makna gramatikal
‘akan’. Contoh berikut:
- Bersenjatakan
‘menggunakan senjata akan (clurit)
- Berisikan
‘mempunyai isi akan (air)
Verba
Bersufiks – kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki
komponen makna (+ tindakan ) dan (+sasaran) akan membentuk verba bitransitif,
yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks
–kan akan membentuk pangkal yang menjadi dasar dalam pembentukan verba
inflektif.
Verba bersufiks –kan digunakan dalam:
1. kalimat imperatif (memberi perintah). Contoh – lemparkan bola itu
kesini.
2. kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan
subjeknya menjadi sasaran tindakan. Contoh – rumah itu baru kami dirikan.
3. keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek)
+ pelaku + verba. Contoh – uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal, yaitu:
|
NO
|
Makna Gramatikal
|
Contoh
|
|
1.
|
‘jadikan’
|
Putuskan, artinya ‘jadikan putus’
|
|
2.
|
‘jadikan berada di’
|
Daratkan, artinya ‘jadikan berada di darat’.
|
|
3.
|
‘lakukan untuk orang lain’
|
Belikan, artinya ‘lakukan beli untuk (orang lain’.
|
|
4.
|
‘lakukan akan’
|
Hapuskan, artinya ‘lakukan hapus akan’.
|
|
5.
|
‘bawa masuk ke’
|
Asramakan,artinya ‘bawa masuk ke asrama’.
|
Verba Bersufiks –i
Verba bersufiks –I adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai
pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks – I digunakan dalam:
1. kalimat imperatif (memberi perintah). Contoh –tolong gulai teh
ini.
2. kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan
subjeknya menjadi sasaran perbuatan. Contoh –kemarin beliau sudah kami
hubungi.
3. keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek)
+ pelaku + verba. Contoh –banjir melanda wilayah yang akan kita datangi.
Verba bersufiks –I memilki makna gramatikal:
|
NO
|
Makna Gramatikal
|
Contoh
|
|
1.
|
‘berulang kali’
|
Pukuli, artinya ‘pekerjaan pukul dilakukan berulang kali’
|
|
2.
|
‘tempat’
|
Duduki, artinya ‘duduk di …’.
|
|
3.
|
‘merasa sesuatu pada’
|
Takuti, artinya ‘merasa takut pada’.
|
|
4.
|
‘memberi’ / ‘membubuhi
|
Garami, artinya ‘memberi garam pada’
|
|
5.
|
‘jadikan’/ ‘sebabkan’
|
Lengkapi, artinya ‘jadikan lengkap’.
|
|
6.
|
‘lakukan pada’
|
Tanggapi, artinya ‘lakukan tanggap pada’.
|
Catatan:
Sufiks –i tidak dapat diimbuhkan
pada bentuk dasar yang diakhiri dengan vokal –i atau diftong ai. Jadi,
bentuk-bentuk ′mandii′, ′pergii′, ′belii′, ′sampaii′, dan ′cabaii′
tidak diterima.
Verba Berprefiks per-
Verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif.
Verba berprefiks per-
1). Kalimat Imperatif. Contoh
: persingkat bicaramu !
2). Kalimat pasif :
(aspek)+pelaku+verba, Contoh: masjid ini makna gramaikal akan kami perluas kea rah Timur.
3). Keterangan pada subjek atau
objek: yang+aspek+ pelaku+ verba = mobil yang belum lama kami
perbaiki mogok lagi.
1. jadikan lebih contoh: pertinggi, artinya
jadikan lebih tinggi.
2. Anggap sebagai contoh: perteman, artinya jadikan teman.
2. Anggap sebagai contoh: perteman, artinya jadikan teman.
Verba berkonfik per-kan
Verba yang bisa
menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif.
Digunakan
dalam :
- imperatif, contoh: jangan perdebatkan lagi
masalah itu!
- pasif yang predikatnya (aspek)+pelaku+verba,
- pasif yang predikatnya (aspek)+pelaku+verba,
contoh : masalah itu akan kami pertanyakan lagi.
- berpola: yang +aspek+pelaku. Contoh: Film yang mereka hendak persembahkan perlu disensor dulu.
- berpola: yang +aspek+pelaku. Contoh: Film yang mereka hendak persembahkan perlu disensor dulu.
Makna Gramatikal:
1.
jadikan bahan. 3.
Jadikan me-
2. lakukan supaya. 4.
Jadikan ber-
Verba berkonfiks per-i
Verba per-I memilki makna
gramtikal:
1). Lakukan supaya jadi.
2) Lakukan pada objek.
Verba berprefiks me-
Dapat berbenuk me-,mem-,men-,meny-,meng-, dan menge-. Bentuk atau alomorf
me- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem
r,I,w,y,m,n,ny,dan ng. contoh :
|
Merakit
Melekat
Mewarisi
|
Meyakini
memerah
menanti
|
Merawat
Mewasiati
menyala
|
-
Verba berprefiks me- inflektif memiliki
makna gramatikal ′melakukan
(dasar)′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan
(+ sasaran). Contoh: membeli, menulis,
membaca.
-
Verba berprefiks me- inflektif memiliki
makna gramatikal ′melakukan kerja
dengan alat′apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan)
dan (+ alat). Contoh: mengikir,
memahat, mengail, merantai, mengunci.
-
Verba berprefiks me- inflektif memiliki
makna gramatikal ′melakukan kerja
dengan bahan′ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan)
dan (+ bahan). Contoh: mengapur, mengecat, mengelem, menyemen.
-
Verba berprefiks me- inflektif memiliki
makna gramatikal ′membuat dasar′ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ benda hasil).
Contoh: menyambal, menumis, menggambar.
-
Verba berprefiks me- derivatif memiliki
makna gramatikal makan, minum, mengisap apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman) atau (+ isapan). Contoh: merokok, menyate, menyoto.
-
Verba berprefiks me- derivatif memiliki
makna gramatikal mengeluarkan (dasar) apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (bunyi) atau (+ suara). Contoh: mengeong, mengaum.
-
Verba berprefiks me- derivatif memiliki
makna gramatikal menjadi (dasar)
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan, ) atau (+ warna)
atau (+ bentuk) atau (+ situasi). Contoh :
menguning, mengecil, membesar.
-
Verba berprefiks me- derivatif memiliki
makna gramatikal menjadi seperti
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sifat khas). Contoh: membatu, membaja, mengarang, mengapur,
menyemak.
-
Verba berprefiks me- derivatif menuju.
Contoh : menepi, mengutara, mendarat,
mengudara, melangit.
-
Verba berprefiks me- derivatif
memperingati. Contoh : meniga hari,
menujuh hari, menujuh bulan, menyeratus hari, menyeribu hari.
Verba berkonfiks ke-an
Verba berkonfiks ke-an termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan
ke dalam verba aktif, seperti verba pasif di-dan verba pasif ter- makna
gramatikal yang dimilikinya:
1. Terkena, menderita atau mengalami
2. agak bersifat.
B.AFIKSASI
PEMBENTUKAN NOMINAL
Afiks-afiks pembentuk nomina turunan sejauh ini
:
1. Prefiks ke- 6. Sufiks –an
2. Konfiks ke-an 7. Sufiks -nya
3. Prefiks pe- 8. Prefiks ter-
4. Konfiks pe-an 9. Infiks –el, -em, dan -er
5. Konfiks per-an 10. Sufiks dan Bahasa asing.
1. Prefiks ke- 6. Sufiks –an
2. Konfiks ke-an 7. Sufiks -nya
3. Prefiks pe- 8. Prefiks ter-
4. Konfiks pe-an 9. Infiks –el, -em, dan -er
5. Konfiks per-an 10. Sufiks dan Bahasa asing.
Nomina Berprefiks ke-
Nomina
berprefiks ke – sejauh data yang ada hanyalah ada tiga: buah kata, yaitu ketua,
kekasih dan kehendak dengan makna gramatikal ‘yang dituai’, yang dikasihi dan
‘yang dikehendaki’.
Nomina berkonfiks ke-an
Ada dua proses pembentukan
nomina:
- Di bentuk langsung dari bentuk akar
(dari akar tunggal maupun akar majemuk) contoh: kehutanan (hutan+ke-an), keolahragaan (olahraga+ke-an).
- Di bentuk dari akar melalui verba menjadi predikat dalam satu klausa.
contoh: keberanian
-> dari verba berani, klausa -> mereka sungguh berani.
Nomina
Berkonfiks pe-
Ø Prefiks pe- yang menggunakan kaidah persengauan. Yang
menggunakan kaidah persengauan mempunyai hubungan dengan verba berprefiks me-
transitif dan verba dasar. Contoh : Perawat
(verba: merawat), Perakit
(verba: merakit), Pelintas (verba: melintasi).
Ø Prefiks pe- yang tidak mengikuti kidah persengauan. Yang tidak
menggunakan kaidah persengauan mempunyai hubungan dengan verba
berprefiks ber- yang menyatakan tindakan. Contoh : Peladang
(dari dasar ladang melalui verba barladang), Pedagang
(dari dasar dagang melalui verba berdagang).
Nomina
Berkonfiks pe-an
Konfiks pe-an dalam pembentukan nomina mempunyai
enam buah bentuk yaitu, pe-an, pem-an, pen-an, peny-an, peng-an dan penge-an.
Proses pembentukannya dilakukan dari dasar melalui veba berprefiks me-
berklofiks me-kan atau berklofiks me-i. oleh karena itu memiliki makna
gramatikal sebagai berikut:
Ø Nomina berkonfiks pe-an memiliki makna gramatikal ‘hal /
proses me- (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me-
inflektif. Contoh: pembacaan,
penulisan, pendengaran.
Ø Nomina berkonfiks pe-an memiliki makna gramatikal ‘hal/
proses me-kan (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui verba berklofiks me-kan
yang dibentuk dari dasar itu. Contoh:
pembenaran, pengecualian, penjelasan.
Ø Nomina berkonfiks pe-an memiliki makna gramatikal ‘hal /
proses me-i (dasar)’ apabila dibentuk dari dasar melalui verba berklofiks me-i
yang dibentuk dari dasar itu. contoh:
pewarisan, pembenahan.
Nomina
Berkonfiks per-an
Ada dua macam proses
pembentukan:
Ø Nomina Bersufiks –an
Ada tiga macam proses
pembentukan.
1. Dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks
me- inflektif.
2. Dibentuk dari dasar prefiks ber-
3. Dasar langsung diberi sufiks –an
2. Dibentuk dari dasar prefiks ber-
3. Dasar langsung diberi sufiks –an
‘tiap-tiap’ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna
(+ ukuran) atau (+ takaran), Contoh : nomina bulanan, literan dan meteran.
(+ ukuran) atau (+ takaran), Contoh : nomina bulanan, literan dan meteran.
‘banyak
(dasar)’ apabila bentuk dasanya memiliki komponen makna (+ bandaan) dan (+kecil),
Contoh : nomina ubanan, kutuan, dan jamuran.
‘bersifat (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh : nomina murahan, asinan, manisan.
‘bersifat (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh : nomina murahan, asinan, manisan.
Nomina Bersufiks –nya
Ø mina Bersufiks ter-
Dengan makna gramatikal ‘yang di-dasar’ hanya terdapat sebagai istilah dalam bidang hukum. Contoh : - tersangka, terperiksa, terdakwa, tergugat, tertuduh, terhukum.
Dengan makna gramatikal ‘yang di-dasar’ hanya terdapat sebagai istilah dalam bidang hukum. Contoh : - tersangka, terperiksa, terdakwa, tergugat, tertuduh, terhukum.
Ø Nomina Berinfiks, -el, -em,
dan –er-
Ø Nomina Bersufiks Asing
“sufiks “ penanda kelas atau
kategori nomina, antara lain:
|
NO
|
Penanda kelas
|
Kata
|
Makna
Gramatikal
|
|
1
|
In
|
Hadirin,
muslimin, mukminin, muhajirin.
|
‘laki-laki
yang (dasar)’
|
|
2
|
at
|
Hadirat,
muslihat.
|
‘perempuan
yang (dasar)’
|
|
3
|
-ah
|
Gairah,
hafizah.
|
‘perempuan
yang (dasar)’
|
|
4
|
Si
|
Kritisi,musisi,
politisi.
|
‘yang
bergerak dalam bidang (dasar)’
|
|
5
|
-ika
|
Fisika,matematika,
fonetika.
|
‘ilmu
tentang (dasar)’
|
|
6
|
-ir
|
Importir,donasir,
eksportir
|
‘pelaku
kegiatan (dasar)’
|
|
7
|
-ur
|
Direktur,kondektur,redaktur
|
‘laki-laki
yang menjadi’
|
|
8
|
-us
|
Politikus,kritikus,musikus
|
‘orang-orang
yang melakukan’
|
|
9
|
-isme
|
Kapitalisme,islamisme.
|
‘paham
mengenai’
|
|
10
|
-sasi
|
Organisasi,neonisasi,tendanisasi
|
‘proses
pe-an’
|
|
11
|
-or
|
Actor, diklator,indikator
|
‘yang
melakukan atau menjadi’
|
C. AFIKSASI
PEMBENTUKAN AJEKTIVA
Kata-kata berafiks yang
betumpang tindih.
1. Dasar
Ajektiva Berprefiks pe-secara langsung +pe-
melalui verba berafiks me-kan +pedasar
melalui verba berafiks me-kan +pedasar
2. Dasar Ajektiva Berprefiks se-
Pemberian prefiks se- pada semua dasar adjektiva memberi makna gramatikal ‘sama (dasar)’ dengan nomina yang mengikutinya. Contoh dalam kalimat: Roni sepandai Rina dalam hal menggambar.
Pemberian prefiks se- pada semua dasar adjektiva memberi makna gramatikal ‘sama (dasar)’ dengan nomina yang mengikutinya. Contoh dalam kalimat: Roni sepandai Rina dalam hal menggambar.
Daftar pustaka :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT
BumiAksara
Komentar
Posting Komentar