L.PERUBAHAN BENTUK KATA
Nama : Muhammad Zukhruf Fikri Al Ayubi
NIM : 166106
Kelas : PBSI 2016 B
PERUBAHAN BENTUK
KATA
Pada
umumnya, perubahan bentuk kata itu disebabkan oleh adanya perubahan beberapa
kata asli karena pertumbuhan dalam bahasa itu sendiri, atau karena memang adanya
perubahan bentuk dari kata-kata pinjaman.
Perubahan-perubahan
bentuk kata apapun dalam suatu bahasa lazim disebut gejalabahasa. Apa gejala bahasa itu? Badudu (1981:47) dalam bukunya
Pelik-Pelik BahasaIndonesia
menjelaskan bahwa gejala bahasa ialah :peristiwa yang menyangkut
bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukkannya.
Adapun
macam-macam gejala bahasa dapat diuraikan sebagai berikut :
A. ANALOGI
Analogi
merupakan salah satu cara pembentukan kata baru. Dalam suatu bahasa yang
disebut analogi adalah suatu bentukan bahasa dengan meniru contoh yang sudah
ada. Dalam suatu bahasa yang sedang tumbuh dan berkembang, pembentukan
kata-kata baru (analogi) sangat penting sebab bentukan kata baru dapat
memperkaya perbendaharaan bahasa.
|
Menyatakan
laki-laki
|
Menyatakan
perempuan
|
|
Saudara /a/
|
Saudari /i/
|
|
Pemuda
/a/
|
Pemudi /i/
|
|
Siswa /a/
|
Siswi /i/
|
|
Mahasiswa
/a/
|
Mahasiswi
/i/
|
|
Pramugara
/a/
|
Pramugari
/i/
|
|
Wisudawan
/a/
|
Wisudawati
/i/
|
Kedua bentuk kata itu terdapat
perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Fonem /a/ dan /i/
mempunyai fungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Selain bentukan bentuk baru seperti
di atas, ada pula deretan yang sudah lama kita jumpai, misalnya: sastrawan, hartawan, wartawan, rupawan, dan
bangsawan. Dari bentukan-bentukan itu, timbul pula bentukan-bentukan
seperti: olahragawan, olahragawati;
negarawan, negarawati; sosiawan, sosiawati; dan karyawan, karyawati. Fonem
/a/ dan /i/ pada bentukan kata si atas tidak ubahnya berfungsi menyatakan
perbedaan jenis kelamin.
Di samping bentukan-bentukan baru
yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat bentukan yang dibentuk dari
kata-kata asli, misalnya bentuk-bentuk seperti: sosialisme, sosialis, dan hedonisme.
Analog dengan itu, terbentuklah kata-kata seperti marhaenisme, marhaenis, pancasialis (Gorys keraf, 1980: 133).
B.
ADAPTASI
Dalam perkembangannya, bahasa
Indonesia selalu dipengaruhi oleh bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa daerah.
Dari pengaruh itu bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah
untuk melengkapi perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari bahasa asing
selalu mengalami penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan
lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya, dan struktur bahasa. Oleh sebab
itu, yang disebut adaptasi adalah
perubahanbunyi dan struktur bahasa asing menjadi bunyi dan struktur yang sesuai
dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang
dimasukinya.
Adaptasi atau penyesuaian dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu :
1)
Adaptasi fonologis adalah penyesuaian perubahan
bunyi bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai
bahasa yang dimasukinya.adaptasi ini menekankan pada lafal bunyi, misalnya:
|
Bahasa asing atau daerah
|
Bahasa yang dimasukinya
|
|
Zonder (Belanda)
Fadhuli
(Arab)
Zaal
(Belanda)
Dhahir
(Arab)
Voorsehot
(Belanda)
Vooloper
(Belanda)
Chauffeur
(Belanda)
Vacantie (Belanda)
|
Sonder
Peduli
Sal
lahir
Persekot
Pelopor
Sopir
Pakansi
|
2)
Adaptasi Morfologis adalah penyesuaian struktur bentuk
kata. Perubahan struktur bentuk kata ini pasti berpengaruh pada perubahan
bunyi, misalnya :
|
Bahasa
Asing
|
Bahasa
yang Dimasukinya
|
|
Schildwacht (Belanda)
|
Sekilwak
|
|
Parameswari (Sanskerta)
|
Permaisuri
|
|
Prahara (Sanskerta)
|
Perkara
|
C.
KONTAMINASI
Dalam bahasa Indonesia, kata kontaminasi sama dengan kerancuan. Kata rancu berarti ‘campur aduk’, ‘kacau’. Dalam bidang bahasa, kata rancu (kerancuan) dipakai sebagai
istilah yang berkaitan dengan pencampuradukan dua unsur bahasa (imbuhan, kata,
frase, atau kalimat) yang tidak wajar. Perhatikan kata-kata sebagai berikut:
1.
Dinasionalisirkan
2.
Dipublisirkan
Pada contoh di atas, dapat kita
lihat kerancuan akhiran {-ir} (Belanda) dengan akhiran {-kan}. Baik akhiran
{-ir} maupun akhiran {-kan} berfungsi membentuk kata kerja. Pada bentuk rancu dinasionalisirkan dan dipublisirkan, terjadi dua kali proses
pembentukan kata kerja itu;pertama, dengan akhiran {-ir}, dan kedua dengan
akhiran {-kan}. Bentuk dinasionalisasikan
berasal dari tumpang tindih dua kata: dinasionalisir
dan dinasionalisasikan, kedua bentuk
terakhir ini sama artinya.
Bentuk kata kerja di atas dalam
pemakaian bahasa Indonesia bersaing dengan kata-kata dinasionalisasikan dan dipublikasikan,
yang hanya terjadi satu kali proses pembentukkannya, yaitu dari kata benda nasional dan kata benda publikasi. Peristiwa seperti diatas
disebut kontaminasi bentukan kata.
Ø Contoh
kontaminasi frase:
o
Kadang-kadang (benar)
Ada kala(nya) (benar)
Kadang kala (kontaminasi)
Ada kala(nya) (benar)
Kadang kala (kontaminasi)
o
Berulang-ulang
(benar)
Berkali-kali (benar)
Berulang kali (kontaminasi)
Berkali-kali (benar)
Berulang kali (kontaminasi)
Ø Contoh
kontaminasi kalimat:
Anak-anak
dilarang merokok. (benar)
Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)
Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)
D.
HIPERKOREK
Gejala hiperkorek merupakan proses
pembetulan bentuk yang sudah betul lalu malah menjadi salah. Gejala hiperkorek
dapat kita perhatikan dalam uraian berikut.
a.
Fonem /s/
menjadi /sy/ ;
o
Sehat menjadi syehat;
o
Insaf menjadi insyaf;
o
Saraf menjadi syaraf;
b.
Fonem /h/
menjadi /kh/ :
o
Ahli menjadi akhli;
o
Hewan menjadi khewan;
o
Rahim menjadi rakhim;
c.
Fonem /p/
menjadi /f/ :
o
Pasal menjadi fasal;
o
Paham menjadi faham;
d.
Fonem /j/
menjadi /z/ :
o
Ijazah menjadi izazah;
o
Jenazah menjadi zenazah.
Ø Contoh lainnya :
o
Utang (betul) menjadi hutang (hiperkorek)
o
Pigura (betul) menjadi figura (hiperkorek)
o
Jadwal (betul) menjadi jadual (hiperkorek)
o
Asas (betul) menjadi azas (hiperkorek)
o
Izin (betul) menjadi ijin (hiperkorek)
o
Zaman (betul) menjadi jaman (hiperkorek)
o
Khawatir (betul) menjadi kuatir (hiperkorek)
Gejala hiperkorek ini juga melanda
ragam bahasa pergaulan remaja, atau dalam ragam bahasa lawak. Misalnya, kofi, mefet, padahal semestinya kopi; misalnya susu diucapkan syusyu (periksa: Jupriono, 1993).
E.
VARIAN
Gejala varian sering kita jumpai
dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vocal /a/ pada sufiks –kan menjadi
/ə/. Misalnya:
·
Direncanakan menjadi direncanaken;
·
Digalakkan menjadi digalakken;
·
Diambilkan menjadi diambilken;
·
Membacakan menjadi membacaken;
·
Membanggakan menjadi membanggaken;
·
Berdasarkan menjadi berdasarken.
F.
ASIMILASI
Gejala asimilasi berarti proses
penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama. Misalnya:
·
Alsalam > assalam > asalam;
·
Inmoral > immoral > imoral
·
Mertua > mentua
G.
DISIMILASI
Disimilasi adalah proses berubahnya
dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama. Misalnya:
·
Vanantara (Sanskerta) > belantara;
·
Citta (Sanskerta) > cipta;
·
Sajjana (Sanskerta) > sarjana;
·
Rapport (Belanda) > lapor;
·
Lalita (Sanskerta) > jelita;
·
Lauk-lauk (Melayu) > lauk
pauk.
H.
ADISI
Gejala adisi adalah perubahan yang
terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi
dapat dibedakan atas protesis, epentesis,
dan paragog.
1.
Protesis ialah proses penambahan fonem pada awal kata.
o
Lang > elang;
o
Mas > emas;
o
Stri > istri;
o
Smara > asmara.
2.
Epentesis ialah proses penambahan fonem di tengah kata.
o
General > jenderal;
o
Gopala > gembala;
o
Racana > rencana;
o
Upama > umpama;
o
Kapak > kampak.
3.
Paragog ialah proses penambahan fonem pada akhir kata.
o
Lamp > lampu;
o
Hulubala > hulubalang;
o
Ina > inang;
o
Adi > adik;
o
Boek (Belanda) > buku.
I.
REDUKSI
Gejala reduksi adalah peristiwa
pengurangan fonem dalam suatu kata. Gejala reduksi dapat dibedakan atas aferesis, sinkop, dan apokop.
1.
Aferesia ialah proses penghilangan fonem pada awal kata.
o
Upawasa > puasa;
o
Uelociped > sepeda;
o
Telentang > tentang;
o
Tatapi > tetapi > tapi;
o
Anadhyaksa > jaksa.
2.
Sinkop ialah penghilangan fonem di tengah-tengah kata.
o
Utpati > upeti;
o
Listuhayu > lituhayu;
o
Sahaya > saya;
o
Kelamarin > kemarin;
o
Bahasa > base.
3.
Apokop ialah proses penghilangan fonem pada akhir kata.
o
Pelangit > pelangi;
o
Possesiva > posesif;
o
Import > impor;
o
Mpulaut > pulau.
J.
METATESIS
Metatesis suatu pertukaran, adalah
perubahan kata yang fonem-fonemnya bertukar tempatnya. Contoh:
·
Rontal > lontar;
·
Beting > tebing;
·
Kelikir > kerikil;
·
Banteras > berantas;
·
Almari > lemari;
·
Apus > usap
sapu;
·
Lebat > tebal.
K.
DIFTONGISASI
Diftongisasi adalah proses perubahan
suatu monoftong jadi diftong. Contoh:
·
Sodara > saudara;
·
Suro > surau;
·
Pulo > pulau;
·
Pete > petai;
·
Sate > satae;
·
Gule > gulai;
·
bale > balai.
·
anggota
> anggauta
·
teladan
> tauladan
L.
MONOFTONGISASI
Monoftongisasi
adalah proses perubahan suatu diftong (gugus vocal) menjadi monoftong. Contoh:
·
Gurau > guro;
·
Bakau > bako;
·
Sungai > sunge;
·
Danau > dano;
·
Buai > bue;
·
Tunai > tune.
·
manteiga
(Prt) > mentega
·
parceiro > persero
M.
ANAPTIKSIS
Anaptiksis
adalah proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan
ucapannya. Contoh:
·
Putra > putera;
·
Putri > puteri;
·
Slok > seloka;
·
Candra > candera;
·
Srigala > serigala.
·
Kraton > keraton
N.
HAPLOLOGI
Haplologi
adalah proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Contoh:
·
Sarnantara > sementara;
·
Budhidaya > budaya;
·
Mahardhika > merdeka.
O.
KONTRAKSI
Kontraksi
adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang
dihilangkan. Kadang-kadang, ada perubahan atau penggantian fonem. Contohnya:
·
Perlahan-lahan > pelan-pelan;
·
Bahagianda > baginda;
·
Tidak ada > tiada;
·
Tapian na uli > tapanuli
Daftar pustaka :
·
Chaer, Abdul.
2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
·
Muslich, Masnur. 1990. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT
BumiAksara
Komentar
Posting Komentar